Ekonomi Preketek

KoKiWorld
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Ekonomi Preketek!
Ice – Jakarta

“Ekonomi Preketek!”  Begitu temanku mengekpresikan kejengkelannya. Investasi sahamnya terjun bebas.

Dan hari ini 10 October, kurs USD tembus 10,000 rupiah per
dollarnya. Seorang teman lantas bertanya padaku, “Aku nggak mudeng.
Dulu tahun 98 ketika kita krisis USD sampai 15,000 aku bisa paham. Tapi
ini yang krisis
kan Amerika kenapa dollar malah naik?”

Mungkin bagi kita yang tinggal di Indonesia, fenomena ini sepertinya menempatkan kita diposisi sebagai selalu jadi korban. Indonesia
krisis kita jadi korban, Amerika yang krisis kita jadi korban lagi.
Masa jadi korban terus, kapan dong jadi jagoan? (Padahal Amerika juga
sedang gelisah, gundah gulana, dan sedang jadi korban).

Karena bukan ahli ekonomi, seperti mbak Sri
Mulyani, atau mbak Miranda Goeltom, aku tidak mencoba menerangkan
kepada temanku. Cuma pendapat pribadiku saja sebagai orang awam yang
aku utarakan padanya, bahwasannya menurutku semua ini adalah hasil
mekanisme supply and demand. Hukum permintaan dan penawaran.

Jangan
melihat USD itu sebagai mata uang Amerika saja, USD itu sudah menjadi
komoditi international. Yang pakai USD untuk transaksi cukup banyak.
Sekarang ketika Amerika krisis, para pengusaha lokal akan butuh uang
USD untuk transaksi importnya, sementara pemasukan USD berkurang
drastis karena menurunnya ekspor. Jadi permintaan menjadi lebih besar
daripada penawaran.

Kemudian crush-nya banyak institusi keuangan di US
yang didalamnya adalah para jawara investasi, menimbulkan penarikan
investasi besar-besaran oleh lembaga-lembaga tersebut untuk
menyelamatkan cash flownya. Hot money di Indonesia
yaitu investasi asing di bursa efek, juga pada ditarik. Saham-saham
pada dijual, hukum supply and demand kembali berlaku. Harga saham
rontok karena lebih banyak yang menjual daripada yang membeli.
Sementara untuk mentransfer hot money ini diperlukan uang USD karena
ini transaksi multinasional yang menggunakan mata uang USD. Kembali
permintaan terjadi tanpa diimbangi penawaran karena tidak adanya USD
yang masuk.

Dari dua kejadian itu sudah bisa dibayangkan
berapa besar pengaruhnya terhadap harga USD yang menjadi langka
dipasar. Karena itu kalo pemerintah melakukan intervensi maka
pemerintah akan mengimbangi permintaan pasar dengan memberikan tambahan
supply dari cadangan devisa, yaitu dengan menjual dollar dengan porsi
tertentu untuk menyeimbangkan pasar.

“Ruwet.” Kata temanku yang lulusan tehnik sipil mendengar penjelasanku.

Memang tidak gampang mengurus ekonomi negara yang
sedang berkembang dalam bersaing dengan negara-negara maju. Sama
seperti mengurus bisnis yang baru mulai atau home industri bersaing
dengan perusahaan yang mapan atau perusahaan besar.

Satu-satunya kesempatan keluar dari lingkaran
universal adalah dengan swasembada yang adalah kunci utama meniadakan
ketergantungan dari pasar internasional. Begitulah idealnya. Tapi
kenyataan yang ada tidak demikian. Banyak bahan baku yang masih harus dibeli dari negara lain. Transaksi internasional jual beli ini tentu menimbulkan permintaan USD.

Transaksi dengan mata uang asing di Indonesia
sebetulnya selalu dipantau pemerintah. Karena setiap transaksi
export-import pemerintah selalu memiliki data. Selain itu neraca
perdagangan antar negara juga selalu dievaluasi oleh pemerintah.
Pemerintah bisa memperhitungkan berbagai scenario terburuk dan
mengantisipasinya. Supaya tidak memakan korban. Seperti krisis 1997-98,
pemerintah Malaysia menjaga mata uangnya dengan ketat dan disiplin, dan hasilnya cukup baik.

Sekalipun seandainya ternyata kita tidak memiliki
daya yang cukup untuk memecahkan masalah yang bakal timbul. Misalnya
kalkulasi menunjukan tidak cukupnya cadangan devisa buat mengimbangi
permintaan USD. Bila dilakukan secara cermat dan cepat, maka
alternative pasti ada. Misalnya dengan minta bantuan dari negara-negara
‘sahabat’ (That is what a friend for).

Karena
Amerika ini adalah ekonomi terbesar dunia. Maka krisis di Amerika
menyebabkan hilangnya sebagian besar pasar. Tentu saja ini menyebabkan
ketidak seimbangan permintaan dan penawaran di dunia. Pasar Amerika
porsinya sangat significant di pasar Dunia. Pasokan yang biasanya
cukup-cukup saja, jadi berlebihan karena mengecilnya permintaan. Jadi
pasokan harus di-rem.

Pengereman mendadak inilah yang bikin kepala jadi
pusing karena terbentur-bentur. Tapi pusingnyakan cuma sesaat, setelah
tenang semuanya akan kembali secara bertahap. Mengadjust diri. Jadi
turbulen ini sifatnya sementara sampai keseimbangan baru ditemukan.
Masalahnya adalah berapa lama? Ketahanan selama masa terbentur-bentur
inilah yang menentukan. Kalo kebablasan dan tidak tahan ya game over.

Tapi seperti pepatah Tiongkok mengatakan bahwa
krisis dan peluang adalah dua sisi mata uang. Ditengah turbulen ini
jika jeli dapat dilihat adanya kesempatan juga. Tapi ini terkait dengan
modal dan resiko. Jika punya uang lebih, maka ini saat untuk
berinvestasi untuk jangka panjang. Saham harganya turun drastis karena
yang punya butuh uang kontan dan menjualnya. Semua menjual. Beberapa
saham turun sampai separuh lebih. Kalau perusahaan itu fundamentalnya
bagus alias tidak mungkin bangkrut maka ini bisa jadi alternative
investasi walaupun jangkanya terkadang panjang. Mumpung murah.

Sektor perumahan juga akan mengalami hal yang
sama. Ketika pasar Amerika merosot permintaan dunia merosot, banyak
perusahaan akan kesulitan. Serba prihatin. Orang pada berhati-hati
menggunakan dananya. Pembelian yang tidak mendesak tidak akan
dilakukan. Beli rumah tidak selalu urgent. Jumlah gagal bayar juga bisa
jadi akan melonjak, banyak yang jual rumah.

Supply perumahan di pasar jadi lebih banyak lagi
ketika investornya banyak yang menjual guna mendapatkan dana segar
untuk membantu cash flow usahanya yang terimbas. Sama seperti memecah
celengan. Tapi harga rumah tidak bisa bagus karena oversupply tapi
bagaimana lagi kalo sedang butuh dana. Harga tidak baguspun tetap
dijual. Makin turunlah harganya. Saatnya membeli bila kita ada dana
lebih.

Nah dilanda kepanikan, para pemilik uang juga
ramai-ramai menkonversikan sebagian uangnya dalam bentuk emas demi
menghindari resiko fluktuasi mata uang yang tidak menentu dan
menciptakan keamanan portfolio. Emas memang memiliki nilai riil, tidak
seperti mata uang. Uang bisa menjadi tidak berharga seperti di Zimbabwe
tetapi emas akan selalu punya nilai. Karena itu harga emas pun melonjak
tajam. Konon harganya kini sudah tiga kali lipat ongkos produksinya.

Ekonomi memang sulit dimengerti walaupun bisa
dipelajari. Variable yang terlibat terlalu banyak. Sedikit sekali orang
yang bisa mengerti ekonomi secara mumpuni, begawan ekonomi sekalipun
terkadang hanya bisa mengerti teorinya saja. Segelintir orang yang
memiliki kemampuan pemahaman ekonomi secara baik tentu hidup makmur
bergelimang uang. Mereka mampu menangkap nyaris semua peluang disetiap
kesempatan yang ada.

Obrolan bersama temanku pun selesai saat kami
meninggalkan cofee shop yang sekarang pengunjungnya berkurang. “Ekonomi
selalu ruwet bila kita tidak punya uang berlebih.” Kata temanku.
“Berlebih.” Katanya lagi
.

 

——————————-

CATATAN Asmod: FOTO GettyImages

 

MODERATOR – Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca “KOLOM KITA” (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali,
Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi
peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto
melalui form “Kirim Artikel”, jika mengalami kesulitan kirimkan melalui
email:
zeverina@kompas.co.id ; zeverina.koki@yahoo.co.id

 

1 dari 7 Halaman Komentar | First Prev Next Last

eknomomi preketek..whui asem dong, makanya belii mas aja, mas ice misalnya

Posted by: mister | Senin, 13 Oktober 2008 | 21:10 WIB

koswara,
tenang aja dengan uang pensiun kamu. karena pensiun, mereka menanam
sahamnya (tersebar)dengan jangka panjang. juga mereka masih ada
beberapa instrumen supaya orang tetap dapat pensiunnya.uang pensiun
pasti juga ada dekingnya. jadi bilamana karena krisis uang di bawa
deking berarti mereka harus menaikan preminya atau orang yang mendapat
pensiun sekarang tidak dapat tambahan dari koreksi inflasi.

Posted by: itsme | Senin, 13 Oktober 2008 | 15:22 WIB

Itsme,
yang saya sampaikan adalah DANA PENSIUN dari berbagai perusahaan dan
juga pemerintah TERKENA IMBAS dari penurunan harga saham ini. Bukan
sebagai penyebab keruwetan finansial dunia saat ini. Karena yang
diakukan oleh dana pensiun sebagai harta kekayaan adalah reksadana dan
harga saham yang ditanamkan di berbagai perusahaan dan penyelenggara
reksadana. Jatuhnya nilai saham mengakibatkan jatuhnya nilai harta yang
dimiliki oleh dana pensiun. Duhhh di salah satu dana pensiun itu, ada
uang saya.

Posted by: koswara | Senin, 13 Oktober 2008 | 12:57 WIB

ruwet
deh…. pe sekarang aku gk ngerti kenapa amerika krisis, saham kita yg
berjatuhan? kenapa IHSG bisa tutun lebih dari 10 persen? kenapa BEI
disuspensi? securiry code : eysz (eymang suze…. ngomongin ekonomi
dunia yak…)

Posted by: kembangnanas | Senin, 13 Oktober 2008 | 11:28 WIB

Amerika
sudah punya prediksi masalah ekonomi itu,karena itu di cari jalan untuk
tambahannya dengan serangan ke irak,yang di perkirakan akan dapat
kesempatan ladang minyak 90%,ternyata ladang minyak itu sudah di kuasai
oleh negara lain.Disini salah perhitungan Amerika.Perhitungan perang
disanapun terlalu lama dari rencana,akibat perang yang di buat Amerika
negara itu sekarang punya masalah berat,tidak ada leader yang bisa
membuat negara itu hidup lagi,walaupun apa aja sadam husein orang kuat
yang bisa merendam apa yang terjadi,amerika sulit untuk keluar dari
perang yang mereka buat,karena di sana kacau balau.Hal yang cukup
serius perdagangan bebas yang di penggang Amerika,produksi mereka lari
ke negara lain,otomatis keuntungan hasil produksi negara lain yang
nikmati,perputar uang di negara lain.Produksi yang memperhitungkan
biaya buruh lebih murah,tak akan bisa jika itu di buat di
Amerika,padahal jika produksi ada menyerap banyak lapangan kerja,jika
tertutup para pekerja ini tidak akan ada pekerjaan,hasilnya kredit
rumah yang mereka punya,kredit barang,mobil juga mengalami
masalah,merembet ke bank-bank yang punya kredit macet,itulah akibat
jangka panjang dari tidak bergeraknya produksi dalam negeri,walaupun
bagaimana ajak produksi yang di hasilkan oleh negara dunia pertama tak
mungkin lebih murah dari mereka buat di negara dunia ke tiga,biaya
hidupkan lain.Coba perhatikan negara mana yang saat ini kaya,pertama
negara yang punya minyak karena harga jual minyak tinggi kedua negara
yang punya produksi,negara-negara itu semua sekarang punya dana untuk
berkembang.

Posted by: ninalevi | Senin, 13 Oktober 2008 | 09:15 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: